MADILOG IS ME


Oleh:
Muhamad Handar
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Meskipun sudah tiada, namun karyanya dan semangat patriotik masih terus membumi hingga saat ini. Tengok saja seperti, ‘Dari Penjara Ke Penjara’; Madilog, Gerpolek, Aksi Massa dan lain sebagainya yang merupakan karya autobiografi dari sebuah adagium “revolusi memakan korban anaknya sendiri.” Siapakah beliau? Betul, beliau adalah Tan Malaka.
Ketertarikan penulis terhadap sosok Tan Malaka yakni terhadap ide pemikiran pendidikan yang beliau tuangkan dalam suatu karyanya yaitu ‘MADILOG’. Dilihat dari sejarahnya sebelum Tan Malaka terjun ke dunia pergerakan politik, beliau awalnya seorang pedagogi (pendidik). Sebuah ihwal konsepsi pendidikan yang mampu mengejewahtakan transformasi pendidikan berpikir secara integratif dan menyeluruh yang menurut penulis mampu memajukan budaya literasi di Indonesia dan menjadi bangsa yang beradab baik secara moril maupun spiritual.
Ketika pendidikan di Indonesia yang semakin semrawut hal itu diidentifikasikan seperti, maraknya tawuran antarpelajar, krisis moralitas, hilangnya budaya rasa malu dan sebagainya. Akibat salah urus pendidikan dibuktikan dengan bergantinya kurikulum, kemampuan guru yang masih minim memiliki jiwa among, sertifikasi hanya menjadi obral belaka karena yang di incar hanya sekadar gaji, namun tidak mengangkat aspek dari segi profesionalitas seorang guru serta pendidikan hanya mengejar nilai ketimbang moralitas atau karakter. Dengan demikian, refleksi pendidikan Tan Malaka perlu diperjuangkan kembali dan harus tertanam dalam jiwa seorang pendidik. Sehingga suatu saat nanti pendidikan di Indonesia mampu terunggul dari pendidikan berbagai dunia lainnya.

More Information:
FaceBook Indonesia Menginspirasi:
FanPage Indonesia Menginspirasi:
Twitter Indonesia Menginspirasi:
Regist On Line:
Web Indonesia Menginspirasi:

PILKADA JAKARTA SETENGAH BOPENG

Oleh :
Muhammad Handar
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik Tahun 2009 FIS UNJ



Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati, dan walikota) dipilih langsung oleh rakyat. Sebelumnya, pemilihan kepala daerah dipilih melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala daerah melalui DPRD membawa segala permasalahan atau kekecewaan pada masyarakat.
Pertama, politik oligarki dilakukan DPRD dalam memilih kepala daerah. Banyak terjadi kasus kepentingan partai dan elit partai sering memanipulasi kepentingan masyarakat luas.
Kedua, mekanisme pemilihan kepala daerah selama ini cenderung menciptakan ketergantungan kepala daerah terhadap DPRD. Akibat dari ketergantungan memicu terjadinya kolusi dan money politics antara kepala daerah dengan anggota DPRD.
Ketiga, terjadi penghentian dan pencopotan serta tindakan yang over dari para anggota DPRD terhadap kepala daerah, seperti kasus di Surabaya dan Kalimantan Selatan berdampak pada gejolak dan instabilitas politik dan pemerintahan lokal.
Cermin Kepemimpinan Nasional
Dalam konteks Jakarta, berdasarkan data BPS DKI Jakarta Tahun 2005  penduduk Jakarta sekitar 8,6 juta. Sebagai pusat pusaran politik, Jakarta menjadi negeri impian politisi. Mereka menganggap memenangkan kompetisi Pilkada di Jakarta mampu membawa prestise dan unjuk prestasi untuk menjadi barometer politik nasional.
Salah satu bentuk kompetisi pemilihan umum itu adalah Pemilihan Kepala Daerah langsung (Pilkada langsung). Pilkada langsung merupakan salah satu aspek dinamika dalam mewujudkan demokrasi di level lokal. Menurut O’Neall pilkada langsung adalah “all  politic is local” yang dimaknai sebagai demokrasi di tingkat nasional akan tumbuh berkembang dengan mapan dan dewasa. Ini terjadi jika di tingkat lokal nilai-nilai demokrasi berakar dengan baik.
Ahmad Baehaki dalam“Wajah Jakarta Setengah Bopeng” mengatakan pada Pilkada 2007 lalu, terdapat 5.746.601 pemilih yang terdaftar dan 1.987.539 (sebesar 34,59%) pemilih tidak menggunakan hak suaranya. Jika dibandingkan dengan perolehan pasangan Fauzi Bowo-Prijanto, ada perbedaan tipis 36% (57% dari suara sah) jika dihitung dari jumlah total pemilih (bukan hanya dari suara sah yang dihitung KPUD).
Ini membuktikan fenomena golput di Jakarta sangat besar dan harus mendapatkan perhatian. Dari data itu kita mengetahui masyarakat DKI Jakarta yang sadar politik lebih berfikir dinamis. Untuk itu diperlukan langkah preventif terutama dari KPUD DKI Jakarta agar masalah golput tersebut dapat diminimalisir agar tidak terulang pada Pilkada tahun ini. Apalagi berdasarkan hasil survei Lembaga Kajian Strategis Nasional (LKSN), pada bulan April diketahui jumlah perempuan yang enggan menggunakan hak suara dalam Pemilukada 2012, berjumlah 43 persen. Jelas ini sebuah ancaman bagi pesta demokrasi warga Jakarta.
Melihat maraknya golput dan buruknya kinerja KPUD DKI Jakarta dibutuhkan pengawasan mahasiswa dan kontrol masyarakat. Mahasiswa berperan sebagai ‘agent of change’ yang membawa aspek perubahan signifikan bagi kehidupan bangsa dan negara. Mahasiswa harus terintegrasikan dalam sebuah idealisme yang mampu menjaga stabilitas Pilkada DKI Jakarta yang jujur dan demokratis. Mahasiswa juga diminta bersinergitas dengan LSM, akademisi dan masyarakat DKI Jakarta dalam mengontrol pemilu yang berkeadilan.
Selain itu dibutuhkan partisipasi aktif partai politik. Secara das sollen, peran dan fungsi partai politik adalah menciptakan pemimpin dan memberikan pendidikan politik untuk masyarakat. Namun, faktanya partai politik lebih banyak melakukan pencitraan untuk kepentingan partai dan golongan tertentu dan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara.
Menunggu Parpol Serius
Selain persoalan golput, masyarakat Jakarta sesungguhnya khawatir kasus Andi Nurpati dalam pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 kembali terulang. Ketika itu, dirinya memperdagangkan KPU untuk mendapatkan jabatan politis. Sehingga memberikan kemulusan kepada Partai Demokrat memenangkan pertarungan. Setelah itu, Andi dikabarkan menjabat sebagai petinggi partai berlambang Mercy itu.
Untuk mencegah Pilkada DKI Jakarta tidak bopeng dan bersih dari politik uang, maka diperlukan kepastian hukum sehingga orang yang bersalah dihukum sesuai prosedur. Selain itu, partai politik perlu diberikan dorongan untuk sadar hukum dan menjalankan politik santun.
Sudah seharusnya partai politik menjadi salah satu tools demokrasi dengan memberikan kesadaran kepada segenap elit politik agar partai politik menjadi meaningfull life of people. Jika itu dijalankan, kita layak berharap Pilkada jujur dan demokratis dapat tercipta.

Sumber Referensi :
Baehaqi, Ahmad. 2010. Wajah Jakarta yang Setengah Bopeng. Jakarta: Schola Media LPM Didaktika UNJ.
Nuryanti, Sri. 2006. Analisis Proses dan Hasil Pemilihan Kepala Daerah Langsung 2005 di Indonesia. Jakarta: LIPI.


MADILOG IS ME



Muhamad Handar
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Meskipun sudah tiada, namun karyanya dan semangat patriotik masih terus membumi hingga saat ini. Tengok saja seperti, ‘Dari Penjara Ke Penjara’; Madilog, Gerpolek, Aksi Massa dan lain sebagainya yang merupakan karya autobiografi dari sebuah adagium “revolusi memakan korban anaknya sendiri.” Siapakah beliau? Betul, beliau adalah Tan Malaka.
Ketertarikan penulis terhadap sosok Tan Malaka yakni terhadap ide pemikiran pendidikan yang beliau tuangkan dalam suatu karyanya yaitu ‘MADILOG’. Dilihat dari sejarahnya sebelum Tan Malaka terjun ke dunia pergerakan politik, beliau awalnya seorang pedagogi (pendidik). Sebuah ihwal konsepsi pendidikan yang mampu mengejewahtakan transformasi pendidikan berpikir secara integratif dan menyeluruh yang menurut penulis mampu memajukan budaya literasi di Indonesia dan menjadi bangsa yang beradab baik secara moril maupun spiritual.
Ketika pendidikan di Indonesia yang semakin semrawut hal itu diidentifikasikan seperti, maraknya tawuran antarpelajar, krisis moralitas, hilangnya budaya rasa malu dan sebagainya. Akibat salah urus pendidikan dibuktikan dengan bergantinya kurikulum, kemampuan guru yang masih minim memiliki jiwa among, sertifikasi hanya menjadi obral belaka karena yang di incar hanya sekadar gaji, namun tidak mengangkat aspek dari segi profesionalitas seorang guru serta pendidikan hanya mengejar nilai ketimbang moralitas atau karakter. Dengan demikian, refleksi pendidikan Tan Malaka perlu diperjuangkan kembali dan harus tertanam dalam jiwa seorang pendidik. Sehingga suatu saat nanti pendidikan di Indonesia mampu terunggul dari pendidikan berbagai dunia lainnya.

REPORTER KPK

“Saudara-saudara, aku mengajakmu ke jalan kebenaran. Sekiranya dalam perbuatanku terdapat suatu kesalahan, tidak sejalan dengan perintah Allah dan Rasulullah, hendaklah saudara-saudara berkenan meluruskannya.”
(Umar Bin Khaththab)
Oleh:
Muhamad Handar
Masih ingatkah ketika pemilihan Pimpinan KPK pada tahun 2007-2011 hal tersebut “dibajak” oleh Komisi III DPR yang sebelumnya terjadi kasus hal serupa pada tahun 2007 terjadi pelemahan terhadap KPU oleh Komisi II DPR. Proses pembentukan hukum yang lebih merupakan power game yang mengacu kepada kepentingan the powerfull daripada the needy. Dari kasus tersebut, DPR lebih memilih tokoh aksepbilitas politik dibanding tokoh yang memiliki aksepbilitas publik. Ironis memang.
Dengan demikian, bila penulis menjadi sebagai Ketua KPK, hal utama yakni memberikan sebuah keteladanan dalam hal ini karakter baik di lingkungan keluarga, masyarakat, kolega dan sebagainya. Mengutip pernyataan Dwight L. Moody, ‘Saya memelihara karakter dengan berusaha memelihara reputasi saya sendiri.’ Sebagaimana hal tersebut harus concern sesuai dengan visi dan misi KPK.
Selanjutnya, langkah inti sekaligus terakhir yakni, membuat wadah ‘reporter KPK’ merupakan dibawah naungan KPK dalam menjalankan fungsi dan tugas KPK terkait Pasal 7 UU No.30 Tahun 2002 mengenai Koordinasi. Anggotanya bisa berasal dari para penggiat anti korupsi, LSM dan sebagainya. Manfaatnya ialah bisa lebih menelusuri dugaan kasus korupsi terutama yang berasal dari informasi masyarakat dengan tujuan meminimalisasi kasus korupsi yang terus menggurita.

Mencari Pemimpin Teladan untuk Jakarta



Muhammad Handar
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik/PPKn FIS UNJ

Jakarta ibukota negara dan pusat pemerintahan RI diibaratkan miniatur Indonesia. Kecil tapi memiliki daya magnet politik yang cukup tinggi dan menarik perhatian semua kekuatan politik. Berdasarkan data BPS DKI Jakarta Tahun 2005  penduduk Jakarta sekitar 8,6 juta. Sebagai pusat pusaran politik, Jakarta menjadi negeri impian politisi. Mereka menganggap memenangkan kompetisi Pilkada di Jakarta mampu membawa prestise dan unjuk prestasi untuk menjadi barometer politik nasional.
Salah satu bentuk kompetisi pemilihan umum itu adalah Pemilihan Kepala Daerah langsung (Pilkada langsung). Pilkada langsung merupakan salah satu aspek dinamika dalam mewujudkan demokrasi di level lokal. Menurut O’Neall pilkada langsung adalah “all  politic is local” yang dimaknai sebagai demokrasi di tingkat nasional akan tumbuh berkembang dengan mapan dan dewasa. Ini terjadi jika di tingkat lokal nilai-nilai demokrasi berakar dengan baik.
Dalam tradisi politik civic republicanism yang dekat dengan prinsip-prinsip utama Pancasila terutama Prinsip Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan maupun Prinsip Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, prinsip ini membutuhkan hadirnya kepemimpinan yang kuat dan sanggup menegakkan komitmen terhadap res-publica (kepentingan publik) diatas res-privata (kepentingan personal). Prinsip virtue dimaknai sebagai prinsip kepemimpinan yang meletakkan kebaikan bersama dan kepentingan publik sebagai sebuah keutamaan. Ketika virtue dapat ditegakkan, maka muncul kebanggaan yang membawa pada keterlibatan dan partisipasi publik dalam merawat demokrasi.
Mengutip pernyataan Iseult Honohan dalam Civic Republicanism bahwa keutamaan virtue sebagai landasan kepemimpinan republik dibangun berdasarkan empat prinsip yaitu Pertama, prudentia (kebajikan) yaitu nalar praktis yang membawa pemimpin meletakkan kebaikan bersama diatas kepentingan personal. Kedua, fortitudo (keberanian) yaitu keberanian pemimpin mengambil kebijakan berdasarkan kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya. Ketiga, decorum (moderasi) yaitu kemampuan mengambil sikap seimbang berdasarkan situasi yang berubah. Keempat, justisia (keadilan) yaitu kemampuan bertindak imparsial, jujur, dan menekankan pada prinsip kesetaraan sebagai nahkoda bagi setiap kebijakan politik yang diambil.
Dengan demikian, berdasarkan prinsip-prinsip diatas berharap terdapat sosok gubernur dan wakil gubernur yang didambakan/diidealkan oleh seluruh warga Jakarta. Semoga .

Memorial eks Tentor Quantum Student




B
ekasi, 4 Agustus 2012 bertempat di Bimbel Binar, kota Harapan Indah, Bekasi Utara. Berkumpul secara langsung melalui undangan secara message yang dikoordinir oleh Nina Ginting, S.Sos dan merupakan Manager Bimbingan Belajar Binar.
Suatu acara yang amazing menurut penulis, dikarenakan acara buka bersama yang menjadi ajang silahturahmi bagi segenap tentor honor yang dulunya sempat mengajar di Bimbel Quantum Student yang berlokasi di PUP, Bekasi Utara.
Suka dan duka turut mewarnai acara yang menjadi sebuah memorial bagi semua tentor honor yang eks dari Quantum Student. Protes sana dan sini meliputi semua opini yang bertanya-tanya pasca pemecatan secara tidak terhormat oleh Direktur PT. Hansantama yang merupakan naungan dari bimbel Quantum Student yakni, Hari Pudjianto, S.T.
“apa yang salah ya sehingga semua pada dipecat, apa karena saya mengundurkan diri dulunya.” Ungkap Nina dalam sela obrolan acara buka puasa bersama di Binar.
Dibenak penulis terkait ucapan dari mba Nina tersebut dirasa sangat riskan sekali. Karena, menurut pendapat penulis sebenarnya tidak ada hubungan yang terkait dengan pasca pengunduran mba Nina yang dahulu sempat menjabat sebagai manajer pusat di Quantum Student yang berlokasi di Pondok Ungu Permai (PUP). Kalau menurut penulis sendiri yang pernah mengajar pula di bimbel tersebut, selama ini yang penulis amati ialah ada berbagai hal diantaranya: a) mengenai jadwal KBM dari masing-masing tentor, uniknya dari bimbel ini kalau penulis bandingkan dengan bimbel yang sudah ternama semisal Primagama yaitu dalam hal waktu KBM bisa dirolling. b) tak sedikit dari beberapa tentor honor tidak mematuhi aturan yang berlaku, semisal kalau pria pada saat KBM harus mengenakan dasi, sedangkan kalau perempuan harus mengenakana blezer.
Dari berbagai poin tersebutlah menurut hemat penulis melihat kegamangan dari direktur Quantum Student sendiri sempat mengalami yang namanya ‘bangkrut secara finansial’. Jelas, karena dari tiga cabang dan terdiri pula puluhan tentor honor maupun tentor tetap yang mengabdi di lembaga tersebut serta staf-staf lainnya yang turut andil pula. Dan karena faktor-faktor tersebut bisa membawa akibat seorang direktur melakukan pemangkasan secara massif dan sedikit kasar.
Namun kesedihan itu mulai sedikit larut dikarenakan adanya kehadiran yang merileksasikan acara buka bersama dan meluluhkan kondisi yang terjadi. Pak Edhi selaku senioritas angkatan I yang dulu sempat mengenyam ngajar di Bimbel Quantum Student. Pengalaman beliau pernah ngajar di Bimbel tersebut selama 1,5 tahun. Kenangnya.
Akhir dari acara tersebut satu per satu datanglah pak Burhan selain sebagai suami dari istri mba Ismi dan juga sekarang beliau menjabat sebagai manajer Bimbel Quantum Student di cabang THB, Bekasi Utara.
Selain itu, tak lupa penulis catatkan seorang tentor datang beserta suami tercintanya yang dahulu sempat pula mengenyam ngajar di Quantum Student yakni mba Yana.
Alhasil, dari acara tersebut merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis khususnya dan umumnya bagi teman-teman eks Tentor Quantum Student dahulunya. Semoga acara temu dan jumpa kebersamaan ini tidak hanya pada saat situasi ramadhan namun berharap pada hari-hari tertentu bisa menambah ukhuwah islamiyah pula. amin

Mengingat Rekam Jejak Penulis Memasuki Kampus Hijau di Jakarta



Masa dimana penulis duduk dibangku kelas XI IPS 2 MA Negeri 1 Kota Bekasi. Pergulatan semangat yang membara untuk menuntut ilmu. Tak terasa waktu berjalan hingga cepat, waktu itu umur penulis sudah memasuki 16 tahun. Usia dimana sudah beralih dari usia kanak-kanak menuju remaja. Tumpuan menempuh harapan dan cita-cita disinilah sebagai bekal meraih kesuksesan di waktu yang akan datang.
Jenjang kelas XI berarti tahapan menuju satu titik pra akhir sebelum kelulusan. Suasana yang begitu semangatnya bisa naik kelas ke tingkat selanjutnya merupakan suatu wujud rasa syukur bisa berhasil. Bercampuraduknya temen-temen sekolah dari berbagai kelas waktu kelas X-nya berbaur dan bergabung membentuk suatu pertemanan yang baru dari sebelumnya. Berselang lama dari hal tersebut, pelajaran satu demi per satu telah dimulai. Mata pelajaran yang juga semakin bertambah yang sebelumnya waktu kelas X berkisar sepuluh mata pelajaran, namun di kelas XI jumlah mata pelajaran meningkat menjadi 15 mata pelajaran. Maklum kenapa begitu banyak karena di samping mata pelajaran umum juga ada mata pelajaran khusus seperti Quran dan Hadits, Fiqih, dan sebagainya didominiasi oleh mata pelajaran agama.
Saat itu, waktu di sekolah teringat seorang guru menanyakan suatu potensi apa yang ingin dicapai siswa saat itu. Pelajaran saat itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diampu oleh guru yang bijak dan tegas dalam mengajarnya ia adalah Tri Wahyuni, S.Pd. awal bab pertama materi pelajaran saat itu mengenai Potensi. Setelah memaparkan secara detail, lalu beliau meminta sebuah contoh dari potensi yang sangat digemari siswa. Dari berbagai hal masing-masing mempunyai jawaban berbeda. Masing-masing jawaban tersebut ada yang menginspirasi dan ada yang tidak itu menurut pendapat pribadi penulis. Saat guru menanyakan hal tersebut kepada penulis. Sempat belum terfikirkan apa yang ingin dijawab. Bingung, hingga menunggu selama 1 menit 30 detik.
Lalu tanpa pikir panjang, diriku sempat menjawab ‘berbicara.’
Apa maksudnya dengan berbicara?
Ujarnya.
ingin menguasai yang namanya bisa berbicara di depan umum, tanpa nervous dan berani terampil dalam mengungkapkan dengan kata-kata yang runut dan jelas, imbuhku dalam menjawab pertanyaan dari guru mengenai sebuah potensi.
‘good’. Ungkapnya.
Lambat laun proses panjang pendidikan yang penulis tempuh dengan begitu gigih untuk diraih agar bisa menjadi orang sukses dan berguna nantinya terutama untuk mengubah nasib keluarga. Tatkala ketika lulus dari MA Negeri 1 Kota Bekasi. Perasaan senang sekali, pastinya. Namun, ada suatu pencapaian terakhir bilamana kalau ingin menjadi orang sukses yaitu melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). Mengalami suatu situasi dilematis. Orangtua saat itu masih sempat berpikir ulang dua kali untuk mengkuliahkan penulis. Dikarenakan mungkin yang dipikirkan orangtua penulis saat itu mengenai biaya yang ditempuh. Pernah suatu ketika teman kerabat penulis dan selalu sebangku dengan penulis pada waktu kelas XI hingga kelas XII IPS 2 yakni Bustanil Arifin. Ia berhasil masuk UNJ saat itu di program studi PPKn. Hatiku taktahu kenapa menjadi terbakar dan merasa iri dengannya ia telah berhasil untuk melanjutkan  ke PTN.
Kalau difikirkan kehidupan ekonomi keluarganya begitu cukup sederhana. Namun tekad dari Bustanil sendiri yang gigih untuk tetap meraih kesuksesan akhirnya ia berhasil meneruskan pendidikannya dengan bantuan dari Mpoknya. Dari semangat itulah penulis ambil dan membicarakan baik-baik dengan orangtua bahwa penulis bersungguh-sungguh ingin menjadi orang sukses dan bisa memperbaiki nasib keluarga nantinya.
dan bahkan Sempat ragu pada saat itu, karena tidak tahu kenapa ingin memilih jurusan Akuntansi dan Ilmu Hukum di salah satu PTN terkemuka seluruh Indonesia.
Hasil yang didapat dari berbagai perjuangan menempuh berbagai tes masuk PTN, semisal UMB, SNMPTN, bahkan pernah register di Universitas Gunadarma di Bekasi namun tidak jadi masuk kesana karena untuk jurusan Sistem Informatika di gundar julukannya begitu sangat mahal untuk biaya masuk disana. Niat itu akhirnya diurungkan atau bisa dibilang tidak jadi.
Sempat masuk juga ke STMI yaitu Sekolah Tinggi Manajemen Industri yang berlokasi di Cempaka Putih samping Universitas Yarsi mengambil jurusan Sistem Informasi Industri. Biaya tersebut semuanya senilai Rp 2.500.000 + Rp 500.000 sebagai uang pembelian seragam. Setelah semua proses tidak ada kendala dalam hal itu semua, membuat diri ini begitu semangat untuk kuliah. Namun, proses itu semua tidak berjalan seperti apa yang diharapkan. Jurusan yang aku ambil pada saat itu ternyata setelah dijalani tidak sesuai dengan harapan atau bisa dibilang tidak cocok.
Akhirnya aku mencoba kembali untuk mengikuti tes PTN yaitu melalui jalur Penmaba UNJ tahun 2009. Disitu akhrnya diterima di jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta. Dengan semangat baru, akhirnya menemukan titik cerah bak tabularasa. Pilihan dalam prodi ini menurut aku menjadi tantangan sebab arah fokus pendidikan selama ini tak tahu kenapa pilihan mengarah pendidikan ini menjadi fokus yang sudah mantap.
Hingga beberapa semester dijalani banyak proses jatuh bangun dalam pencapaian sebuah cita-cita. Selama kuliah pun selalu aktif di berbagai organisasi untuk mengembangkan softskill. Selain itu, untuk menutup kebutuhan selama ini masih bergantung kepada orangtua, penulis berusaha mencari job freelance untuk mengisi kekosongan waktu yang kurang bermanfaat. Hal tersebut penulis melamar sebagai tentor di Pena Prestasi sebagai awal mulanya dan memanfaatkan waktu yang kosong demi meringankan beban orangtua. Selain di Pena Prestasi penulis juga pernah menjadi tentor di Quantum Student dan Primagama, keduanya berada di daerah bekasi.
Pengalaman menjadi tentor awalnya deg degan..
namun berselang begitu lama hal tersebut menjadi terbiasa untuk dilakukan karena menjadi pendidik ada hal-hal dimana masa sulit ketika awal mencoba, sedang dan menjadi terbiasa. Kadang saking terbiasanya juga perlu mendapatkan training sendiri supaya menjadi terasah terutama dalam penggunaan metode pembelajaran supaya semakin dikembangkan. Sehingga esensi dari sebuah transformasi guru profesional dapat terwujud. amin

Makna Menjadi Guru Favorit


Krik..Krik.. dahi ku mengerut ! ada apa ya?? Ternyata, eh ternyata, ada sebuah kabar gembira yang membikin jantung, rona wajahku memudar kegirangan disertai dengan senyuman yang melebar. Alhamdulillah.. ternyata berita yang selama ini ku dengar, atau sebuah semacam desas-desus mengenai sebagai “guru favorit” ?? Wowww, amazing !
Tidak menyangka, dan cukup shock. Karena, dalam hal ini penulis pikir apa yang penulis sampaikan berupa gaya mengajar atau metode pembelajaran dalam menyampaikan sebuah materi, aku mengira takkan berhasil. Disebabkan, penulis yang cukup memiliki badan besar, sedikit disiplin dalam mendidik murid dan selalu murah senyum serta fleksibel dalam berteman baik kepada murid maupun kepada guru tentor tentap atau staf-staf lainnya.
Mendengar desas-desus tersebut, meskipun masih dirahasiakan, namun penulis cukup tahu desas-desas tersebut pertama kali dari Mba Yana, salah satu tentor tetap atau menaungi jabatan bagian akademik di bimbel Quantum Student PUP, Bekasi. Beliau saat itu mengatakan kepada penulis, ketika Mba Nina mengajar English Course (EC) untuk kelas 6 SD. Beliau juga merupakan tentor tetap dan menjabat sebagai manajer pusat, menanyakan sebuah pertanyaan kepada muridnya waktu itu who is favourite teacherkemudian ada salah satu murid yang memberikan pendapat atau komentar tersebut yaitu Natanael. Natanael berujar yaitu Pak Handar’ Ujar Mba Yana.
Natanael ialah murid kelas 6 SD E yang les di bimbel Quantum Student. Dan dia juga merupakan asuhan murid yang penulis didik selama mengajar di Quantum Student. Namun, setelah mendengar desas-desas tersebut, penulis juga tidak mau terlalut dalam kesenangan sesaat (comfort zone). Tujuan penulis masih panjang untuk menjadi seorang guru professional dan mengajar di bimbel ini sebagai langkah awal proses pengalaman dan membentuk mental pula kelak ketika akan mau PPL maupun mengajar sesungguhnya di sekolah.
Masa-masa hari penulis jalani dengan semangat untuk mengajar di Quantum Student. Secara deskripsi Quantum Student memiliki 2 cabang yaitu di THB (Taman Harapan Baru) dan Boulevard yang masih berlokasi di Bekasi. Pusatnya yaitu di PUP (Pondok Ungu Permai), Bekasi. Namun, penulis hanya mengajar di dua tempat, yaitu Quantum Student PUP dan Quantum THB. Aktivitas atau profesi ini sangat giat penulis geluti, karena jiwa menjadi guru merupakan sebuah profesi yang sudah menjadi “kekasih” dalam pribadi penulis. Kelas yang selama ini menjadi tanggung jawab penulis, yaitu, kelas 6 terdiri dari dua kelas yakni kelas 6E dan 6F, kelas 9 terdiri dari kelas 9A dan 9D, dan kelas 12 SMA jurusan IPS. Materi pelajaran yang penulis ajarkan meliputi, Geografi, Sosiologi, Sejarah, IPS atau IPS Terpadu (SMP).
Begitu sangat bahagia meskipun penulis saat ini masih berprofesi sebagai tentor honor hal tersebut tidak menjadi masalah, karena menjadi tentor honor pun penulis mendapatkan salary yang cukup lumayan. Yaa.. berkisar Rp 500.000/bulan itu untuk mengajar di bimbel Quantum Student.
Namun, selain di bimbel Quantum Student, penulis juga mengajar di bimbel yang lain, yaitu Primagama dan SP2K. Penulis dalam hal ini kenapa mengajar hingga di tiga tempat bimbel, dikarenakan penulis saat ini ingin meringankan beban orangtua. Selain itu, penulis juga sedang mengumpulkan dana untuk KKL nanti yang jatuh kira-kira bulan Mei atau Juni.
Saat menulis tulisan ini, penulis sudah selesai semester lima, dan sebentar lagi atau sekitar bulan pertengahan Februari, penulis akan memasuki semester enam. Sekarang penulis, sedang liburan kuliah. Sisa-sisa liburan inilah penulis menghabiskan separuh waktunya untuk mengajar di bimbel. Tidak hanya mengajar, tetapi menulis dan membaca terus giat penulis lakukan untuk memanfaatkan waktu yang ada.
Kembali ke masalah desas-desus mengenai penulis mendapat predikat guru favorit. Hal ini semakin kuat desas-desas tersebut. Dikarenakan hari ini, 16 Januari 2012, penulis ada jam mengajar di bimbel Quantum Student, dan setelah penulis selesai mengajar kelas 6 SD G lalu membeli batagor yang sering menjajakan dagangannya di depan bimbel Quantum Student dari pukul 16.00-17.30 wib.
Canda dan bisik-bisik membicarakan penulis mendapat predikat sebagai ‘guru favorit’, namun penulis tidak mengubrisnya hanya sekedar senyuman yang penulis lontarkan. Menurut penulis, predikat sebagai ‘guru favorit’ merupakan rasa syukur penulis selama ini telah berjuang keras untuk menarik simpati murid yang dididik untuk menjadi murid yang tidak hanya terbentuk secara IQ saja, namun juga diimbangi dengan EQ dan SQ. Sebagaimana sesuai dengan logo dari bimbel Quantum Student yaitu  pokoknya apa yang penulis baca buku yang berkaitan mengenai pendidikan. Akan penulis implementasikan atau adopsi dalam pembelajaran yang penulis ajarkan.