Mukjizat dari Tanah Afrika





Data Buku:
Judul Buku       : Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang
ISBN               : 9786021835128
Penulis             : Mujahidin Nur
Penerbit           : Zaytuna
Halaman          : 116 halaman

Sudahkah Anda membaca buku “Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang” ? pasti pertama kali membaca akan menyangkal ini pasti hoax atau ketidakmungkinan bukan? Saya pun awal pertama membeli buku ini pun sungguh tidak terlalu percaya, namun atas dasar ketidakpercayaan yang menimbulkan rasa ingin tahu saya, selain itu buku ini pun sudah best seller secara nasional. Penilaaian saya saat itu, pasti buku ini memiliki daya tarik yang begitu luar biasa, baik dilihat dari substantif maupun yang lainnya, sehingga menjadi jodoh bagi yang membacanya.

Syarifudin khilafah – sebuah nama hasil dari mukjizat Tuhan Semesta Alam. Suatu kondisi yang begitu luar biasa menurut saya. Dikarenakan persitiwa ini terjadi bukan di Indonesia, melainkan di luar Indonesia, tepatnya di benua hitam – julukan benua Afrika. Syarifudin Khilafah lahir dari sebuah keluarga kristen khatolik bertempat tinggal di daerah Arusha, Tanzania. Arusha merupakan kota kecil yang terletak di benua Afrika bagian timur, ia merupakan kota yang menjadi bagian dari sebuah negeri cantik beriklim tropis, Tanzania. Nama Tanzania sendir diambil dari nama sebuah danau yang sangat terkenal di negeri tersebut yakni danau Tangayika, yang merupakan salah satu tujuan wisata favorit baik domestik maupun mancanegara, selain itu pula Zanzibar, Mafia dan Pemba. (hlm. 24)

Arusha adalah sebuah kota yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua, mayoritas penduduk kota ini memeluk agama Kristen Anglikan, kemudian agama Yahudi, disusul dengan agama Islam. Dan terakhir agama paling sedikit pengikutnya di kota ini adalah agama Hindu. Dari urutan tersebut diketahui bahwa Islam merupakan agama minoritas kedua di kota ini sesudah agama Hindu. Komposisi ini sangat berbeda dengan kondisi pemeluk keagamaan di Tanzania pada umumnya. Di Tanzania sendiri secara umum sebenanarnya Muslim di sana masih mayoritas. Konon penduduk Muslim di sana mencapai 35% dari 35.922.454. penduduk Tanzania. Di urutan kedua Kristen 30%, dan sisanya 35 % adalah pengikut animisme. (hlm.26)

Dari data tersebut, bukti agama Islam menguat dapat ditelusuri dari sebuah kisah yang termaktub dalam “RIHLAH”. Sebuah kisah perjalanan yang dididektikan mengenai perjalanan-perjalanan pentingnya oleh Ibnu Juzay, seorang sarjana dari Maroko bertemu Ibnu Batutah dalam pertemuannya di Siberia. Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlemgkap yang ditulis pada abad ke-14. Dalam catatan teresebut diketahui bahwa Ibnu Batuta yang memiliki nama asli Abu Abdullah bin Muhammad pernah singgah di Tanzania pada tahun 1332. Dalam kunjungannya tersebut Ibnu Batuta mengatakan bahwa Islam telah masuk negeri ini (Tanzania) sejak abad ke-8, sebagaimana hal itu juga dikuatkan melalui temuan arkeolog, salah satunya sebuah masjid tua di Kizimkazi, Zanzibar yang dibangun pada tahun 1007, juga koin-koin emas seta tembaga terbitan tahun 830-1n. (hlm. 25) “Namun, tidak dijelaskan secara terperinci apakah dalam kunjungan ke Tanzania itu Ibnu Batuta singgah di kota Arusha atau tidak”. Ungkap penulis.

Gambaran yang sungguh luar biasa dari seorang anak bernama Syarifudin Khalifah, terdapat suatu tanda-tanda mukjizat seperti; ketika berumur 2 bulan, bocah tersebut tidak mau disusui oleh ibunya, kemampuannya membacakan ayat suci Al-Qur’an ketika ia masih berumur 4 bulan,  juga kemampuannya menghafal Al-Qur’an ketika ia berumur 1,5 tahun adalah sebuah keajaiban serta ia mampu memnguasai lima bahasa, yaitu Arab, Inggris, Prancis, Kiswahili, Italia. Kemampuan atas izin Allah tersebut selain memberikan pengaruh kepada orantuanya hingga masuk Islam bahkan juga memberi pengaruh kepada jutaan umat yang non muslim atas hebohnya berita tersebut hingga masuk Islam pula.

Dengan demikian, secara kelebihan nilai dari isi buku tersebut sudah memberikan suatu gambaran perihal terdapat seorang anak bernama Syarifudin Khalifah yang mengislamkan ribuan orang di benua Afrika dan sekitarnya. Namun, secara kekurangan, saya melihat ada beberapa hal, yaitu;
1) buku ini belum memperlihatkan secara detail peristiwa apa yang menyebabkan sehingga Syarifudin Khalifah bisa lahir hingga membawa berbagai mukjizat tersebut.
2) buku ini juga belum memperlihatkan data secara mendetail mukjizat Syarifudin Khalifah terutama hal khusus pengaruhnya dalam menguasai lima bahasa hingga mengislamkan ribuan orang.


GURU GOKIL MELAWAN MODERNISASI MELALUI PENDIDIKAN

RESENSI BUKU

GURU GOKIL MELAWAN MODERNISASI MELALUI PENDIDIKAN
Oleh:
Muhamad Handar

(Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta)


Judul Buku                  : GURU GOKIL MURID UNYU
Penulis                         : J. Sumardianta
Jumlah Halaman          : 303 halaman
Penerbit                       : Bentang Pustaka
Waktu Terbit               : Mei 2013

Buku ini menjadi nutrisi yang bergizi bagi segenap kalangan guru. Sehingga, menjadi guru yang dicintai, dan membuat inspiratif bagi peserta didiknya. Secara substantif, tidak terlalu menggurui malah justru sebaliknya, membuka kontak pandora yang selama ini terkukung oleh sistem pendidikan kita yang terlalu rigid (kaku). Terdapat kisah yang bisa menjadi pedoman sebagai bahan ajar/metode pembelajaran yang asyik dan menyenangkan agar peserta didik larut dalam suasana hiruk-pikuk yang memotivasi, kreatif, inovatif, dan inspiratif.

Dedikasi beliau yang berprofesi sebagai guru selama dua puluh tahun di SMA De Britto, Yogjakarta juga kecintaannya terhadap dunia kolumnis tentu tidak terlepas yang namanya budaya membaca dan menulis. Hal itulah yang menjadi passion beliau, mengutip YB. Mangunwijaya, “Kebudayaan buku menunjukkan keunggulan pribadi. Sendirian orang membaca, merenungkan, mengembangkan daya imajinasi dan kreativitasnya.”

Secara keseluruhan kisah bapak J. Sumardianta mendecak kagum bagi saya. Lantunan kalimat dalam buku “Guru Gokil Murid Unyu” yang begitu mengalir, runut, dan indah sehingga apabila membacanya terbawa dalam sosok kepribadian beliau yang sungguh menginspirasi. Menjawab persoalan pendidikan di Indonesia yang tak kian habisnya, peran guru sangat begitu vital dalam mengubah setiap perilaku murid sebagaimana mestinya. Era digital zaman sekarang, anak-anak muda disebut alay – anak layangan. Generasi galau alias ababil, anak baru labil. Generasi bermental speed boat yang gemar berlari kencang di zona permukaan arus dangkal. Anak-anak zaman sekarang mengalami tantangan, berkaitan dengan pelajaran sekolah yang makin membebani. Mereka juga menghadapi longsoran wibawa nilai-nilai dan runtuhnya norma-norma sosial dalam pergaulan yang membingungkan. Orangtua mengalami tantangan mendidik anak ditengah kecanduan gadget yang meracuni. Guru gokil itu guru hebat yang mampu menginspirasinya menjadi murid unyu. (hlm. xii)

Pesan penutup yang ingin saya utarakan dari buku ini, beliau mampu menjembatani kehidupan murid dengan realitas kehidupan melalui pendidikan yang kreatif dan menyenangkan. Membentuk moralitas dan tabiat yang positif, menjawab tantangan, berpikir kreatif, dan memahami setiap karakter peserta didik dengan perannya sebagai guru hebat. Menurutnya, guru hebat selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak obral bualan di kelas sepanjang waktu.

Agenda Buka Puasa Bersama di Rumah Belajar Avicena, Bekasi


Assalamu'alaykum Wr.Wb.
Bismillah, kami dari pengurus Rumah Yatim Avicenna-Bekasi.
akan melaksanakan Dauroh ilmiah + Baksos + Buka Puasa Bersama Dengan Ana-anak Yatim/Piatu & Dhuafa, Insya Allah dilaksanakan pada :

Hari/Tgl : Selasa, 30 Juli 2013
Waktu: 15.30- Selesai

Adapun rincian baksos sebagai berikut:
1. Ta'jil Rp 3000/kotal x 50 = Rp 150.000
2. Nasi Kotak Rp 10.000 x 50 = Rp 500.000
3. Sembako Rp 30.000 x 50 = Rp 1.500.000
4. Mukena Rp 50.000 x 30 = Rp 1.500.000
5. Sarung Rp 50.000 x 20 = Rp 1.000.000
6. Al-Qur'an Rp 50.000 x 50 = Rp 2.500.000
Total = Rp 7.150.000

Bagi sahabat, yang ingin menginfakan sebagian rezeki buat mereka (invesasi akhirat) bisa transfer ke :
1. BNI cabang UGM, No. Rekening : 0267210684, a.n. Dwi Puji Astuti,
2. Bank BJB KCP Babelan No. Rek. 0026825318100 a/n. TPQ Avicenna
bagi sahabat yang sudah transfer harap konfirmasi ke +62 8975473583
barokallohu fikum



Antisipasi Gizi Buruk Melalui Kedaulatan Pangan di Indonesia

Antisipasi Gizi Buruk Melalui Kedaulatan Pangan di Indonesia
Oleh:
Muhamad Handar

Generasi penerus merupakan agent of change untuk revolusi Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Oleh karena itu, generasi yang sehat, cerdas, dan produktif plus ideologis merupakan tantangan utama dalam suatu bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut pembangunan manusia erat kaitannya dengan status gizi dan kondisi kesehatan.
Berbicara mengenai gizi dan kesehatan berarti terdapat korelasi dengan pangan Indonesia. Dikarenakan, ditinjau dari sisi geografis, Indonesia merupakan negara agraris yang terdapat berbagai sumber daya alam hayati yang dapat tumbuh sumbur di negeri ini (das sein), namun secara realita justru sebaliknya (das sollen). Salah satu indikator ketidakmampuan suatu bangsa dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakatnya, ditunjukkan dengan nilai impor bahan makanan pokok yang lebih tinggi dari nilai ekspor. Dari data statistik makro pertanian terbaru yang dikeluarkan oleh departemen pertanian menunjukkan bahwa nilai impor makanan pokok masayarakat terus mengalami peningkatan.  Tahun  2009 volume impor beras segar pemerintah 250.225 ton, tahun 2010, meningkat 687,582 ton tahun 2011, berjumlah 2,744,002  ton dan triwulan 1 tahun 2012 volume impor 770,295  ton. Tren peningkatan nilai impor bahan kebutuhan pokok ini menunjukkan masih lemahnya pemerintah dalam menggarap dan mengolah sumber daya alam potesial yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. 
Dampak dari bergantungnya negara Indonesia terhadap impor selain menyebabkan terjadinya kemiskinan, pengangguran dan yang lebih parah dari itu ialah kasus gizi buruk yang semakin kronis. Sebagai contoh kasus gizi buruk yang terjadi di Lombok Timur misalnya, hingga Januari 2011 mencapai 330 orang dengan rincian 130 balita gizi buruk dan 200 balita gizi kurang (VIVAnews.com). Tidak hanya di Lombok Timur, jumlah penderita gizi buruk di Sulawesi Selatan hingga Oktober 2011 dilaporkan 286 kasus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 150 kasus sehingga jumlahnya mencapai 436 kasus (Tribun Timur.com).
Kedaulatan Pangan Solusi Mengatasi Gizi Buruk

Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan rakyat untuk memiliki kemampuan guna memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri. Kedaulatan pangan merupakan prasyarat dari sebuah ketahanan pangan. Ketahanan pangan baru akan tercipta kalau kedaulatan pangan dimiliki oleh rakyat.

Melihat pentingnya kedaulatan pangan yang berhubungan dengan hak hidup sesesorang/warga negara/manusia sehingga pangan tidak bisa dilepaskan dalam kerangka hak asasi manusia. Pengakuan kedaulatan atas pangan sebagai hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa pangan merupakan kebutuhan yang demikian penting bagi hidup manusia, di pihak lain perlunya perlindungan kepada setiap orang atas akses untuk mendapatkan pangan. Demi perlindungan tersebut perlu dipositifkan hak atas pangan menjadi hak yang tertinggi dalam bidang hukum yaitu hak asasi manusia. Sebagaimana hak-hak manusia lainnya, negara dengan kewajibannya yang ditimbulkan oleh hak tersebut, negara harus menghormati (to respect), melindungi (to protect), dan memenuhinya (to fulfill).

Pangan merupakan hal yang mendasar bagi penduduk Indonesia, dengan kualitas pangan yang baik ditambah dengan kemudahan untuk mendapatkan pangan tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas potensi sumber daya manusia Indonesia. Dengan pangan yang sehat dan bergizi dapat menunjang seseorang untuk beraktivitas lebih giat dan memiliki daya tangkap yang lebih baik. Lain halnya jika generasi penerus Indonesia adalah generasi yang kekurangan gizi dan kelaparan tentu akan terjadi lost generation dimana kemampuan untuk berfikir dan bertindak dibawah rata-rata disebabkan asupan gizi yang kurang optimal.
Kendala utama yang dihadapi dalam membangun kemandirian pangan Indonesia adalah meningkatkan produksi padi untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk dan berkurangnya areal lahan sawah. Padi termasuk komoditas strategis dan makanan pokok di Indonesia. Untuk itu Pemerintah, Akademisi dan Praktisi lintas sektoral sudah sewajarnya melakukan usaha-usaha bersama untuk mengatasi kebutuhan pangan Nasional dan berkontribusi dalam mengatasi ancaman Krisis Pangan dunia yang dapat mengancam pada kedaulatan pangan bangsa Indonesia.
Kedaulatan pangan mengatur produksi dan konsumsi pertanian yang berorientasi kepada kepentingan lokal dan nasional, bukan pasar global. Kedaulatan pangan mencakup hak untuk memproteksi dan mengatur kebijakan pertanian nasional dan melindungi pasar domestik dari dumping dan kelebihan produksi negara lain yang dijual sangat murah. Oleh karena itu, petani kecil dan buruh tani harus diberikan akses terhadap tanah, air, benih, dan sumber-sumber agraria lainnya.

Secara lebih kongkrit, ada tujuh prinsip utama untuk menegakkan kedaulatan pangan, antara lain adalah: (1) pembaruan agraria, (2) adanya hak akses rakyat terhadap pangan, (3) penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, (4) pangan untuk pangan dan tidak sekadar komoditas yang diperdagangkan, (5) pembatasan penguasaan pangan oleh korporasi, (6) melarang penggunaan pangan sebagai senjata, (7) pemberian akses ke petani kecil untuk perumusan kebijakan pertanian.

Referensi:

______. 2000. Indonesia Abad XXI. Jakarta: Kompas

Karman, Yonky. 2010. Runtuhnya Kepedulian Kita. Jakarta: Kompas

Sedjatmoko. 1995. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3S

Sumarsono, Harlan. 2009. Paradoks Demokrasi. Jakarta: IND HILL CO



Pamflet dan Anak Muda

Mendapatkan sebuah kesempatan, terpilih sebagai presenter dalam menyajikan sebuah hasil kajian saya dalam sebuah forum Mata Muda. Suatu event yang diinisiasi oleh Pamflet. Terpilih enam presenter muda sebagai representatif seluruh Indonesia yang akan menyajikan sebuah karya baik hasil berupa penelitian, diskusi, maupun karya tulis ilmiah. Mereka diantaranya; Liska Rahayu (Yogyakarta), M Erfan Lutfi (Sleman), Muhamad Handar (Bekasi), Langityanto Tri Gezar (Depok), Ryan Fajar Febrianto (Bogor), Imam Ibadullah (Pekalongan), Diana Widyawanti (Palu).  Acara yang berlangsung dari tanggal 27-30 Juni 2013 di Komunitas Salihara dan Teras Kita.



Seputar Pamflet
Secara simplifikasi apa itu Pamflet, dapat disimak sebagai berikut, “Pamflet was established by a group of young people to support Indonesian youth movement and manage its knowledge. This organization focuses on research and study relevant to youth issue and capacity building for young people based on human rights framework. Pamflet is setting up centre of information and documentation for youth issue in Indonesian derived from various perspectives including social, political, cultural, economic, and environmental. From the organization point of view, youth is an independent and active agent who can expand their initiative to generate meaningful change within the society. Thus, Pamflet reinforces youth network consisting of youth based organizations and communities and encourages them to participate meaningfully within the social movement”.
Intinya, Pamflet dengan programnya Mata Muda menjadi suatu kegiatan positif dalam mengapresiasi generasi muda terutama yang sangat menyukai dunia menulis/penelitian, Bekerjasama dengan divisi anak muda Transparansi Internasional Indonesia, menjadikan Mata Muda suatu kegiatan yang berqualified. Mata Muda adalah pekan riset bertema anak muda dan isu-isu sosial budaya seperti Antikorupsi, Demokrasi dan HAM, Lingkungan Hidup, Pendidikan, Toleransi dan Keberagaman. Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi dan sebagainya. Mata Muda bertujuan untuk mendekatkan anak muda dengan kajian dan pengetahuan seputar anak muda dan gerakan sosial di Indonesia. Hakekatnya kegiatan ini menjadi pendorong bagi penggiat anak muda yang expert di bidang ilmiah. Dengan demikian, suatu apresiasi yang begitu luar biasa dan saya menunggu dari kegiatan Pamflet selanjutnya.

Video kegiatan Pamflet - Mata Muda: 





Membumikan Pilar Kebangsaan dalam Segala Aspek Kehidupan

Membumikan Pilar Kebangsaan dalam Segala Aspek Kehidupan

“Sejarah hari ini adalah kreasi masa lalu, sejarah masa depan adalah bagaimana kita membentuknya hari ini. Sebab sejarah adalah pola yang berulang dan mari kita berkarya dalam sejarah hidup kita”
(Inggar Saputra)
Oleh:
Muhamad Handar

Realitas kehidupan tergambar jelas dalam kolosal lembaran hidupku. Memandang segala fenomena yang melintas disegala hulu maupun hilir. Menghiasi fakta dalam sebuah berita yang terpampang melalui media. Tindakan membutuhkan uluran tangan dari pihak-pihak yang sadar bagi dunia ini. Kebuntuan hanya dapat ditemukan apabila tidak ada satu manusia pun yang bermoral dalam hidup ini.
Sketsa itu terlihat jelas dalam kolosal lembaran hidupku sebagai contoh ketika banyak generasi muda atau remaja terlibat aksi tawuran, narkoba, nikah dini, pelecehan seksual dan sebagainya menjadi polemik setiap hari nan padam tanpa henti. Padahal bila berpikir sejenak tumpuan bangsa ini terletak ditangan generasi muda atau remaja. jika berdasarkan data jumlah remaja di Indonesia, sekitar 26,7% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 63,4 juta jiwa (Vivanews, 2012), jumlah yang cukup besar, dari 63, 4 juta jiwa tadi sekitar 58 juta adalah Pelajar (Antaranews, 2012) da sekitar 4,8 juta adalah mahasiswa (Kompas, 2011). Selain itu, jika mengutip data UNFPA, jumlah penduduk Indonesia saat ini, sekitar 60 juta jiwaadalah pemuda.

Aset bangsa ini besar terlihat jumlah pemuda yang begitu besar, bahkan jumlah pemuda Indonesia saat ini hampir menyamakan jumlah penduduk Inggris. Namun, Hal itu berbanding terbalik dikarenakan moralitas ditangan pemuda yang tak kunjung padam, sebagaimana contoh kasus yang terjadi di wilayah Jabodetabek, terdapat 17 remaja tewas dalam tawuran di wilayah Jabodetabek sejak 1 Januari 2012 hingga 26 September 2012 (Tempo, 2012) belum lagi jumlah pelajar yang tewas dikota lain, hal lain yang juga patut diperhatikan adalah kasus seks bebas. Survei Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7% remaja SMP tidak perawan. Sementara menurut Kepala BKKBN Pusat , Sugiri Syarif tahun 2009 dikatakan 22,6% remaja termasuk penganut seks bebas. Berdasarkan data Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2008 didapatkan tidak kurang dari 2,5 juta kasus aborsi ditemukan di Indonesia setiap tahunnya.

Hal tersebut tidak dapat dibiarkan lebih lanjut, perlu dukungan dari berbagai stakeholder menumbuhkan atau menanamkan kembali budaya moral dan nilai-nilai bangsa yang kini hampir padam melalui membumikan pilar kebangsaan dalam segala aspek kehidupan dikarenakan melalui pilar kebangsaan baik disosialisasikan di sekolah, kampus, masyarakat umum berupa diskusi, seminar, workshop dan sebagainya sebagai upaya meminimalisasi dampak arus globalisasi yang mengancam bangsa ini dari keterpurukan. Rekomendasi lain yakni memberdayakan kembali guru bidang PPKn dalam menumbuhkan semangat rasa nasionalisme dan patriotisme serta membentuk moral bangsa melalui sebuah karya, inovatif dalam pembelajaran dan sebagainya.

#2 WAWANCARA SEKOLAH PEMIKIRAN PENDIRI BANGSA III


#2  WAWANCARA SEKOLAH PEMIKIRAN PENDIRI BANGSA III
Oleh:
Muhamad Handar

Setelah dari kisah sebelumnya mengenai info pengumuman saya sebagai peserta terpilih Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa III. Sekarang memasuki tahap kedua yaitu, wawancara. Setelah ditelepon oleh pihak panitia pasca pengumuman, saya pun mendapat gilirannya. Lalu, saya pun mengiyakan untuk bertemu dalam tahap kedua tersebut pada tanggal 29 April 2013 jam13.00 WIB di Megawati Institute.

Tiba saatnya waktu yang telah dinantikan. Hal senada pun juga telah dikatakan oleh rekan saya, teman satu perjuangan sewaktu mengikuti event kepemudaan bernama "Youth Educators Regional Training 2012" yang diselenggarakan oleh Youth ESN pada 22-23 Desember 2012 yang lalu di SMPN 3 Tangerang Selatan bahwa dia juga akan diwawancarai hari yang sama denga saya pula. Suatu kebanggan sama sekali bisa bertemu kembali alias reunian. Hehehe

Awalnya tadi kita mau bertemu bersama di UNJ. Mengingat rekan saya masih simpang siur mengenai lokasi Megawati Insititute, dan dia dari Untirta, Banten. Saya pun tahu lokasi tersebut yang beralamat di sekitar jalan proklamasi, Jakarta Pusat bersebelahan dengan Majelis Ulama Indonesia ketika saya mengetahui adanya info mengenai Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa III yang diselenggarakan oleh Megawati Institute yang beralamat di jalan Proklamasi. 
Saya pun baru ngeuh jadinya, dan ketika saya ingin ke Freedom Institute (kebiasaan setiap hari berkunjung ketika ada waktu kosong) saya menyempatkan bertanya kepada orang sekitar pas saya sedang makan siang di seputar Jalan Proklamasi, tepatnya di deket tugu lapangan Proklamasi, Jakarta Pusat pada pukul 12.00 WIB. "Ohhh. Itu toh gedungnya", ujar dalam hati saya. Nama gedung Megawati Institute merupakan bagian dari gedung Enerindo Group.

Langsung pada tahap wawancara tiba. Sebelumnya saya datang ke Enerindo Group pada pukul 12.50 WIB, saya menyempatkan waktu untuk shalat Dzuhur disana yang tempat Masjidnya berlokasi di belakang gedung. Trus, saya menuju ke lantai 2 Gedung Enerindo Group, yang merupakan sekretariat dari Megawati Institute. Saya adalah orang kelima yang hadir di hari pertama, pada tanggal 29 April 2013. Terdapat 2 gelombang dalam sesi wawancara, mengingat pula jumlah peserta terpilih dari SPPB III berkisar 43 orang dan beragam profesi, akan tetapi mayoritas mahasiswa.

Saya berkenalan dan mempunyai rekan baru, saat itu ada Eko dari UIN Jakarta, Adi dari Untirta, Yohanes dari STF Driyarkara dan beberapa orang lainnya yang tidak saya sempat untuk mengingat namanya. Karena waktu yang juga terbatas, dan nuansa hingar bingat dalam canda tawa, share dan sebagainya. Tiba giliran masing-masing peserta untuk diwawancarai, saya mendapat urutan kelima berdasarkan absen. 
Akhirnya, saya pun dipanggil dalam suatu ruangan berukuran cukup lumayan luas, terdapat tiga panitia yang memawancarai peserta. Saya diwawancarai saat itu oleh Pak Muhammad Islam. Dari seputar pertanyaan yang diajukan mengenai keaktifan dan pengalaman selama berorganisasi di kampus, baik intra organisasi maupun ekstra organisasi. Selain itu, mengenai komitmen sebagai peserta SPPB III kelak jika terpilih di tahap kedua ini. Amin semoga saya bisa terpilih. Hehehehe

Dengan pertanyaan yang diajukan saya pun bersifat tenang dan legowo saja. Alhasil, proses wawancara tersebut selesai tinggal menunggu keputusannya selanjutnya melalui via telepon dan website. Karena kelak jika terpilih, kegiatan SPPB III diadakan setiap hari Selasa jam 13.30 WIB. Hmmm, akhirnya saya pun juga harus berpisah dengan rekan saya dari Banten, Adi. Dan semoga kita bisa terpilih dalam proses wawancara ini dan bertemu dalam forum yang sama. Sebagai wujud akan pemuda bangsa yang melahirkan suatu peradaban bangsa. Amin 

***