ATUR ULANG BERPROSES



Sumber foto: pexels.com


Ketika ingin berkompetisi dalam jenis lomba apapun tersirat dalam hati ingin bisa meraih juara tiga besar. Menapaki puncak sebagai juara pastinya ada tantangan demi tantangan yang harus dihadapi baik secara mulus maupun berat. Puncak juara adalah impian para pemburu kompetisi. Tujuan akhir dari juara tersebut agar bisa menikmati karya penulis dan menjadi portofolio penulis hingga terus tiada henti berkarya.

Dalam setiap kompetisi selalu mengajarkan banyak hal, yaitu kegigihan, kejujuran, bertanggung jawab dalam proses, berusaha banting tulang mencari ide yang sangat tepat jitu bagi solusi yang ditawarkan. Rekam jejak bersusah payah demikian akan membentuk pribadi agar tidak gentar ketika menghadapi persaingan kompetisi yang sebenarnya terutama di dunia kerja.

Memahami potensi diri harus terus digali dimana letak kesungguhan untuk berbuat lebih dari manusia pada umumnya. Kompetisi memang tidak melulu berbicara obsesi untuk bisa meraih juara, proses untuk menuju puncak apalagi kalo bisa menjadi juara terus menerus pasti kompetensi pribadi yang sudah terbentuk sangat baik. Diatas keberhasilan pasti ada kegagalan, kegagalan demi kegagalan sebagai buah kunci pengalaman yang berharga agar menikmati daya guna sehingga bisa move on dan berprestasi tiada akhir.

Melihat rekam jejak bagi mereka yang terus berprestasi dan juara hingga terus menerus adalah sumber inspirasi agar tidak berdiam diri dan melangkah penuh keyakinan bahwa kelak suatu saat bisa seperti mereka yang telah berada diatas puncak. Kuncinya terus mau berjuang dan atur ulang jiwa berproses, ya utama berkompetisi selama ini hanya memikirkan dan selalu memikirkan agar bisa jadi juara dan ketika tidak dapat juara akan males untuk berkompetisi lagi. Atur ulang berproses dan beyond the limit. Semangat!

Relawan (adalah) Pahlawan Bangsa



Sumber foto: Pexels.com


Menjadi Indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan sempurna dan ikhtiar itu tidak akan pernah selesai.”
Goenawan Mohamad

Manusia sebagai pribadi adalah berhakikat sosial. Artinya, manusia akan senantiasa dan selalu berhubungan dengan orang lain. Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Fakta ini memberikan kesadaran akan ‘ketidakberdayaan’ manusia dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kehadiran manusia di tengah-tengah sesamanya adalah kodratiah. Hidup merupakan relasi, jaringan keterikatan yang vital dan perlu. Seorang individu terjalin secara tidak terpatahkan dengan sesama, dengan keluarga, tanah, alam, dan dengan misteri hidup yang transenden. Dalam hidup dengan sesamanya, yang lazim disebut hidup bermasyarakat.

Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta jiwa dan 25% dari jumlah penduduk tersebut atau 57,81 juta jiwa adalah pemuda. Pemuda ibarat aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Kemajuan suatu bangsa tergantung dari bagaimana pemuda ikut urunan mengatasi solusi permasalahan bangsa atau problem solver. Menjadi bagian dari para pemuda adalah keniscayaan yang terus memberikan panji-panji nasionalisme akan sebuah perubahan. Tentu perubahan tersebut sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat “…. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Eksistensi pemuda merupakan suatu hal yang patut disyukuri karena beragam kreatifitas dan aksi yang dilakukan turut mewarnai mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia sesuai kapasitasnya masing-masing. Misalnya, keikutsertaan sebagai relawan Mobil Baca (MoBa), suatu program dari Dompet Dhuafa Pendidikan. Bentuk kegiatan ini sebagai sarana pelayanan kepada warga baik pelajar maupun masyarakat dengan menghadirkan akses baca buku gratis dan berkualitas secara bergantian dari satu lokasi ke lokasi yang lainnya. Pun kegiatan layanan lainnya ialah story telling, read aloud dan sebagainya. Pembekalan dan pembinaan yang diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat dengan pendekatan yang objektif. Pada kesempatan ini, dimana relawan juga mempelajari bentuk kegiatan asesmen, pemetaan sosial, hingga evaluasi secara terukur sehingga penerima manfaat merasakan kebermanfaatan dari program MoBa. Kehadirannya untuk bermanfaat bagi sesama merupakan suatu nilai yang begitu berharga.

Makna Relawan sebagai Pahlawan Bangsa

Volunterisme adalah adalah sebuah bentuk kegiatan kesukarelawanan, yang sedang berlangsung, terencana, perilaku menolong yang meningkatkan kesejahteraan orang lain, tidak menawarkan kompensasi keuangan, dan biasanya terjadi dalam konteks keorganisasian. (Clary et al, 1998; Finkelstien, 2009; Penner, 2002; dalam Widjadja, 2010).

Secara reflektif, memaknai istilah relawan atau volunterisme adalah kesempatan menjadi orang baik dan terbaik tidak hanya pribadi tetapi bagi masyarakat, bangsa dan negara. Bahwasanya di dalam ajaran agama saya, yakni Islam tersirat makna yang lugas terpatri pada Q.S Ali Imran ayat 110, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar….” Ruh kerelawanan ibarat pahlawan bangsa yang berjuang melawan ketidakadilan sosial atau tindakan kepahlawanan yang menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia. Jika masyarakat Indonesia baik secara kesadaran individu maupun kolektif maka kelak akan terwujudnya Indonesia Dermawan.

Menjadi relawan adalah aksi baik yang dilakukan secara gotong royong dan dilakukan tanpa pamrih. Mari bergiat bersama sebagai relawan karena relawan adalah pemimpin masa depan bangsa.

#ParadeRelawan2020SR
#GerakanKerelawanan
#RelawanIndonesia
#KebaikanIndonesia
#SekolahRelawan

Penulis
Muhamad Handar
----
Referensi:
Widjadja, Emmeline. (2010). Motivation Behind Volunteerism. Claremont McKenna Colleger Senior Theses. Paper 4.