MOZAIK 1 : ANGKUH TAK BERKESUDAHAN

        
         Cerminan yang terpampang di depan mata seraya kabur menggurita dan biasanya saling berucap satu sama lain. Dia terlihat begitu egois, rupa wajah tersembunyi aura benci yang terselubung. Membosankan ! jika bertanya kepadanya, tak pernah disahut.

         Saat matahari mulai nampak. Kutengok kembali paras diriku di depan cermin tapi tidak seperti biasanya. Sejauh apakah yang dirasakan, tapi kemudian berkehendak hati tak merespon setiap segala peristiwa yang kabur.

         Terkadang sangat begitu jengkel melihat diriku yang selalu mau menang sendiri. Keinginan itu tidak serta merta ingin tumbuh menjadi pribadi yang penuh tamak. Mengelus hati seolah bisa sedikit meredakan emosi. Paling tidak meringankan sejengkal luapan kata-kata yang tidak mengenakan. Semua butuh proses untuk mengendalikan semua yang terjadi. Bila muncul dan selalu membawa raga yang tak berkesudahan. Langkah untuk bisa menyurutnya biasanya ‘menggurutu dalam hati’.

         Persoalan yang tidak bisa mengontrol, tidak mau menjadi bumerang dan merugikan pihak lain yang terkena dampaknya. Kemudian, tak berimbas juga segala motivasi yang mewarnai dan pada akhirnya selalu terjebak dalam stagnasi.

         Ingin menjadi bijak dan sabar. Beragam upaya pun telah dilakukan, salah satunya ialah dengan berpuasa. Namun itu hanya sesaat belaka, diriku tak mau menjadi manusia yang kehilangan kendali. Jika ini terus berlanjut, apalah arti suatu kehidupan.


        
           


0 Comments: